Rain - Gelap (Episode ke - 17)

Pagi ini Rain terbangun di kamarnya, ia menatap jari manis tangan kirinya, ternyata cincin ini bukanlah mimpi. Baru kemarin Azzam menyatakan perasaannya dengan sungguh-sungguh.
Hari ini Rain berencana berangkat ke kantor seperti biasa, menggunakan mobil sendiri dengan supir pribadinya, menurut Rain sepertinya orang lain tidak perlu tahu dulu terkait hubungan Rain dan Azzam, meskipun semua orang tidak ada yang tahu mereka tinggal bersama, mungkin lambat laun juga semuanya tahu. 
Rain segera bersiap ke kantor, ia sudah menggunakan pakaian rapi, yaitu kerudung dan blazer favoritnya, karena sudah masuk musim dingin, ia selalu menggunakan mantel tebalnya. Rain turun menggunakan lift untuk ke ruang makan. Terlihat disana sudah ada Azzam dan nenek. 
"Pagi nek, Zam. Loh nenek ko sudah siap-siap, mau kemana?" Tanya Rain.
"Pagi Nay, sini duduk dulu, Rain nenek sepertinya sebulan akan pergi dulu ke Kanada, ada urusan yang perlu nenek urus disana, kalian bisa kan handle perusahaan?" Tanya Nenek.
"Tenang saja nek Rain dan Azzam pasti bisa handle." ucap Rain.
"Obat kamu sudah di bawa? Nay?" Tanya nenek.
"Sudah ko nek, tak usah khawatir, yang jelas nenek juga minum obat selalu ya nek, jaga kesehatan, nenek berangkat di antar siapa?" Tanya Rain.
"Nenek ingin di antar Azzam. Bagaimana Zam?" Tanya nenek. 
Azzam hanya fokus makan. 
"Zam, kamu tidak mendengar nenek?" Tanya nenek.
"Eh Nek, ada apa?" Tanya Azzam.
"Kamu sepertinya sedang banyak pikiran," Ucap nenek.
"Tidak aku hanya tidak enak badan nek." Ucap Azzam.
"Coba nenek pegang" Ucap nenek sambil memegang kening Azzam.
"Azzam tidak kenapa..." Ucap Azzam terpotong.
"Zam, badanmu demam ini. Ya sudah kamu istirahat di rumah, nenek berangkat di antar supir saja, dan Nay, kamu tidak perlu ke kantor, nanti nenek yang sampaikan pada sekretaris dan pada direksi yang lain untuk handle itu. Nay nenek pergi ya. Kamu jaga Azzam baik-baik. Nenek pergi." Ucap nenek sambil berdiri memakai mantel.
"Aku gak kenapa-kenapa nek." Ucap Azzam.
"Stop Azzam, badanmu sudah demam, nenek mau pergi, kamu tidak perlu mengantar. Nay hati-hati ya, tolong bawa Azzam ke rumah sakit." Ucap nenek sambil mencium kening Rain.
"Iya nek. Hati-hati ya nek." Ucap Rain dan Azzam. 
Nenek pun segera keluar dari rumah.
"Azzam aku ambilkan obat ya?" Ucap Rain.
"Tidak usah Ren, aku tidak kenapa-kenapa." Jawab Azzam.
"Tapi kata nenek badanmu demam." Ucap Rain.
"Aku hanya ingin istirahat saja di kamar." Ucap Azza,m.
"Ya sudah, kamu istirahat, aku mau membereskan ini dulu." Ucap Rain sambil merapikin piring.
"Iya aku ke kamar ya sekarang." Ucap Azzam sambil masuk ke dalam kamarnya. 
Saat itu masih pagi hari, Azzam sudah masuk ke dalam kamarnya, setelah Rain merapikan piring, dia pergi ke ruang TV di lantai satu. Melihat sikap Azzam yang berubah membuat Rain berpikir tanpa arah, apakah Azzam seperti itu karena kemarin dia salah menyatakan? Apa Azzam menyesal? Hal-hal seperti itu yang membuatnya menjadi tidak merasa senang lagi. Tanpa sadar Rain tertidur di ruang TV, ia tertidur di sofa dengan posisi TV menyala.

Saat Rain tertidur, Azzam turun ke ruang TV, melihat Rain tertidur lelap, ia langsung memberikan selimut pada Rain. Azzam yang melihat Rain tertidur langsung ingin menemaninya. Azzampun ikut tertidur di sofa satunya untuk menemani Rain. 

Waktu terus berjalan, Rain terbangun karena mendengar seseorang  menggigil kesakitan, meskipun ia terheran melihat selimut di tubuhnya, ia lebih kaget lagi melihat seseorang di sampingnya menggigil kedinginan. Rain langsung duduk di lantai di samping sofa, dia memegang kening Azzam ternyata tubuhnya sangat panas. Rain segera mengambil termometer dan air hangat untuk mengompres Azzam. Rain rawat Azzam ketika Azzam tertidur, mungkin karena menahan rasa sakitnya, Azzam tidak sadar kalau Rain merawatnya ketika sakit. 

Setelah sholat Dzuhur, Rain kembali melihat keadaan Azzam, namun Azzam masih belum juga terbangun. Rain menyuruh pelayan di rumahnya untuk  membuatkan bubur, dan menyiapkan obat demam untuk Azzam. Rain yang terus mengompres Azzam, mulai merasa khawatir, ia hanya bisa menatap Azzam dari samping tubuh Azzam. 
"Zam, apa perlu aku bawa kamu ke rumah sakit?" Tanya Rain sambil bertanya pada Azzam yang tengah tertidur.
Namun tiba-tiba Azzam menjawab.
"Jangan Ren, jangan pergi." Ucap Azzam sambil mata tertidur. 
Rain yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.
"Ternyata hanya mengigau." Ucap Rain.  
Saat Rain hendak berdiri akan mengecek bubur di dapur. Tangan Azzam langsung meraih tangan Rain. Ternyata Azzam sekarang benar terbangun. 
"Rain, jam berapa sekarang?" Tanya Azzam dengan suara pelan.
"Jam setengah dua Zam, Zam, kita ke dokter saja yuk?" Ucap Rain.
"Tidak perlu, aku hanya ingin seperti ini, di rawat olehmu, cukup di rumah, dan beristirahat, besok juga sembuh." Ucap Azzam.
"Tapi badan kamu demam." Ucap Rain.
"Sehari saja, satu hari saja Ren." Ucap Azzam.
"Baiklah, asal kamu mau minum obat dan makan, aku akan merawatmu di rumah." Ucap Rain.
"Kalau begitu, aku tidur lagi ya." Ucap Azzam.
"Jangan, aku mau ambilkan bubur dulu, kamu belum makan dan minum obat." Ucap Rain.
"Iya, ya sudah kamu ambil dulu ke dapur sana, ambil makan untuk mu juga tapi, aku ingin makan bersama." Ucap Azzam.
"Iya, yasudah aku ambil dulu." Ucap Rain.
Lalu Rain langsung ke dapur mengambil bubur, namun saat dia ke dapur, terdengar suara Azzam muntah-muntah di kamar mandi. Rain langsung berjalan cepat sembari membawa bubur yang sudah di siapkan. Setelah menyimpan bubur di atas meja, Rain langsung ke kamar mandi. 
"Zam kamu kenapa?" Ucap Rain sambil memijat punggung Azzam.
"Keluar Rain, apa kamu tidak jijik?" Ucap Azzam.
"Sudah keluarkan saja dulu, jangan banyak bicara." Ucap Rain sambil memijat penggung bagian atas milik Azzam.
Setelah selesai muntah dan mencuci mulutnya. Azzam segera kembali ke ruang tengah. Rain mengikutinya di belakang.
"Aku menyiapkan teh manis hangat, minum ini dulu." Ucap Rain sambil memberikan teh manis di cangkir.
"Terimakasih Rain, Rain kamu tidak jijik memangnya?" Tanya Azzam sambil meminum teh hangat.
"Masa saja aku jijik terus siapa lagi memang yang akan mengurus kamu kalau bukan aku? pelayan?" Tanya Rain sambil tersenyum.
"Ya sudah, ini buburnya aku makan ya, aku ingin cepet sehat." Tanya Azzam.
"Baru sakit sehari, kamu kan selalu sehat, sakit sehari gak apa-apa kan?" Tanya Rain.
"Tidak bisa, laki-laki itu harus kuat, bagaimana aku mau jaga kamu, kalau aku sakit." Ucap Azzam sambil makan bubur lahap.
Rain hanya tersenyum.
"Aku mau habiskan ini semua." Ucap Azzam.
"iya lah harus habis, Zam, tadi pagi kamu kenapa terlihat banyak pikiran." Tanya Rain.
"Ah, kamu memperhatikan ya, aku hanya kepikiran kalau, orang yang kemarin mau mengganti uang sawah pak Farel tiba-tiba meminta uang lebih investasi karena dia sudah membayar semua, aku hanya bingung saja, kenapa seperti itu, tapi ya demi warga disana, itu sudah tidak aku pikirkan lagi." Ucap Azzam.
"Pantas saja, harusnya kamu diskusi denganku, aku juga kan wakil direktur di AM Corporate." Ucap Rain.
"Iya Rain, maaf ya. Aku hanya tidak ingin buat semua khawatir. Tapi semua sudah selesai ko, tadi sekretaris aku Roni sudah menyelesaikan semuanya." Ucap Azzam.
"Syukur kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya Zam." Ucap Rain.
"Kamu tidak makan, itu bubur kamu keburu dingin nanti." Ucap Azzam.
"Iya aku makan nih, habis kamu minta makan bersama." Ucap rain.
Merekapun makan bersama dimeja makan.
"Zam, boleh gak nanti sore aku keluar?" Tanya Rain.
"Mau kemana?" Ucap Azzam sambil meminum teh manis hangat miliknya.
"Mau ambil obat, obat alergiku habis." Ucap Rain.
"Loh, sudah habis? Kenapa gak minta tolong sekretaris kamu saja?" Tanya Azzam.
"Tidak, aku tidak mau merepotkan." Ucap Rain.
"Ya sudah nanti aku yang antar." Ucap Azzam sambil menghabiskan bubur terakhirnya.
"Tidak usah Zam. Kamu kan sedang sakit, nanti nenek malah marah sama aku." Ucap Rain.
"Tidak, kalau kamu tidak mau menyuruh yang lain, biar aku yang temani, masa aku teg membiarkan kamu pergi sendiri." Ucap Azzam sambil menatap Rain.
"Ngga gitu, aku di antar supir kok." Ucap Rain.
"Aku jadi curiga, apakah yang kamu mau temui itu bukan apoteker ya? Kamu mau menemui orang lain? Ayo jawab aku Rain?!" Ucap Azzam.
"Azzam ih, kamu mikir nya terlalu jauh. Ya sudah kalau gitu kamu ikut, tapi kita harus cepat pulang ya.." Ucap Rain.
"Deal! Ya sudah aku mau ke ruang V ya." Ucap Azzam.
"Iya sana, nanti jangan langsung tidur, kamu haru minum obat!" Ucap Rain.
"Siap bu dokter!" Ucap Azzam sambil hormat dan langsung pergi. 
Rainpun segera membereskan meja makan, dan segera ke kamarnya untuk ganti baju.  Saat rain turun ke bawah, ternyata Azzam sudah rapi menggunakan celana jeans dan jaket. 
"Zam, sudah minum obat?" Tanya Rain.
"Eh Rain, sudah ko. AKu udah minta supir panasin mobil aku. Sudah siap?" Jawab Azzam.
"Sudah Zam. Ayo berangkat." Ucap Rain. 
Merekapun segera pergi ke rumah sakit milik perusahaan, karena hanya rumah sakit milik merekalah yang sudah rutin menyiapkan obat untuk Wakil Direktur cantik itu.
Saat diperjalanan menuju rumah sakit.
"Rain, obat apa saja yang habis?" Tanya Azzam.
"Hmm, semua Zam, obat yang biasa di minum dan obat oles nya juga hampir habis." Jawab rain.
"Coba deh minta banyak sekalian, tapi varian tempatnya, yang besar untuk di rumah, yang kecil untuk di bawa kemana-mana." Ucap Azzam.
"Oh, okay, nanti biar aku yang bilang sama apotekernya." Jawab Rain.
"Bener ya? Jangan sampai aku yang telepon ke apotekernya nanti. Oh ya aku nanti tunggu di mobil saja ya? Agak pusing." Ucap Azzam.
" Iyaaa ga usah nelepon-nelepon deh, mentang-mentang komisaris rumah sakit. Hmm loh. Serius Zam? Kamu masih kerasa sakit? Mau aku saja yang bawa mobilnya?" Tanya Rain.
"Ga usah Ren, tenang saja, aku hanya butuh istirahat." Jawab Azzam.
"Yaudah nanti aku sebentar ko ke apoteknya, aku chat aja apotekernya, biar langsung disiapkan. Jadi kita bisa langsung pulang." Ucap Rain.
"Loh ko pulang, ga akan jalan-jalan dulu?" Tanya Azzam.
"Ke apoteker aja minta diam di mobil, terus kalau alan-jalan mau diem dimana?" Ucap Rain.
"Ya kali mau menikmati musim dingin" Ucap Azzam.
"Ngga, kita langsung pulang pokonya!" Ucap Rain.
"Iya bawel, nih dah sampe. Aku tunggu di depan ya." Ucap Azzam sambil membuka kunci mobil.
"Okay, aku sebentar kok." Ucap Rain sambil lari keluar menuju apoteker.
Azzam hanya tersenyum melihat tingkah laku Rain, dan ia sedikit menyandarkan jok kursi mobilnya agar bisa sedikit rebahan. Namun karyawan yang sadar mobil Cooper biru dongker yang di dalamnya terdapat Direktur Utama AM Corporate tersebut sedang terparkir di depan rumah sakit, mereka langsung segera menundukan badan memberikan salam. Dan Azzampun melambaikan tangannya untuk menjawab salam meeka. Tidak lama Rain keluar dari apotek.
"Lama ya?" Tanya Rain sambil masuk ke dalam mobil.
"Ngga ko, sudah selesai?" tanya Azzam.
"Sudah, nih udah semuanya komplit." Jawab Rain.
"Langsung pulang?" Tanya Azzam.
"IYA!" Jawab Rain tegas. 
Azzampun tersenyum, karena bagaimanapun sifat tegasnya Rain hanyalah demi kebaikan Azzam. Merekapun segera pulang kembali ke rumah. Ketika mereka sampai mereka memasuki gerbang, namun ada yang membuat heran karena semua gerbang terbuka lebar, seperti ada tamu.
Ketika mereka memasuki gerbang pertama mereka masih melihat pemandangan halaman yang luas, gerbang dua terlewati pun tetap sama. Dan ketika mereka melewati gerbang terakhir. Sudah banyak mobil terparkir, orang bergantian masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Rain panik melihat keadaan tersebut, menyuruh Azzam segera mempercepat mobilnya. Ketika mereka masuk ke dalam rumah, sangat hancur hati Rain dan Azzam, mereka tidak bisa menahan tetes air mata, melihat sosok yang ia sayangi sudah berbaring di ruang TV, di kelilingi oleh semua staf perusahaan dan relasi. Ya, nenek angkat mereka sudah meninggal dunia. Lalu saat itu juga Rain jatuh tak sadarkan diri.

Comments

Popular Posts